Peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur yang dimotori oleh Diding Rachmawati dan Eli Korlina telah melakukan pengkajian terhadap beberapa jenis tanaman maupun biji sehingga dapat dimanfaatakan sebagai pestisida nabati. Biji srikaya mengandung bahan aktif asetogenin dan squamosin untuk sasaran hama ulat maupun hama penghisap polong. Sedangkan biji mahoni mengandung bahan aktif swietenin dan limonoid dapat menghambat perkembangbiakan ulat, hama penghisap, penyakit karat pada daun kopi.
Cara kerja pestisida nabati ini adalah dapat mengendalikan serangga hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggul. Cara kerja yang sangat spesifik yaitu merusak perkembangan telur, larva dan pupa, penolak makan, mengurangi nafsu makan, menghambat reproduksi serangga betina dll.
Keunggulannya adalah biaya yang murah karena mudah didapat, relatif aman bagi lingkungan, tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, tidak menimbulkan kekebalan pada hama, kompatible bila digabungkan dengan cara pengendalian lain dan yang tidak kalah pentingnya adalah hasil pertanian yang sehat dan bebas residu pestisida.
Sedangkan kelemahannya adalah daya kerja relatif lambat, tidak membunuh langsung ke jasad sasaran, tidak tahan terhadap sinar matahari, kurang praktis, tidak tahan disimpan dan penyemprotan dilakukan secara berluang-ulang. Informasi di bawah ini perlu anda ketahui untuk menambah pengetahuan atau mungkin mencobanya di lahan pertanian anda, karena dilengkapi dengan cara pembuatan pestisida nabati dengan cara sederhana.
Thursday, 23 September 2010
Cara Praktis Merangsang Pembungaan Tanaman Klengkeng
Perangsangan pembungaan tanaman klengkeng dapat dilakukan dengan cara perlakuan fisik seperti pemangkasan, perundukan dahan, penggelangan, dan lain-lain. Sedangkan secara non fisik dapat dilakukan dengan cara pemupukan hara mikro atau pemberian hormon. Hasil kajian yang dilakukan oleh Yulianto dan Joko Susilo, peneliti dari BPTP Jawa Tengah, diperoleh kesimpulan bahwa cara penyerempakan pembungaan tanaman klengkeng melalui perundukan dahan ini dapat direkomendasikan di daerah sentra-sentra produksi klengkeng, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.
Pohon klengkeng (Dimocarpus longan (lour) Steud) mempunyai tiga kelompok bunga, yaitu, bunga berkelamin tunggal, berbunga jantan dan betina. Tanaman klengkeng yang berumah satu (bunga jantan dan bunga betina terjadi pada satu pohon) kadang kala berbunga hanya sedikit sehingga mengeluarkan buahnya juga sedikit. tak terkecuali di saat musimnya pada bulan September. Hal inilah menjadikan tingkat produktivitas klengkeng sangat rendah.
Dari beberapa perlakuan, cara perundukan dahan dinilai paling efektif untuk perangsangan pembungaan pada tanaman klengkeng yang berumur produktif (8-15 tahun). Perundukan dilakukan dengan cara menarik percabangan ke bawah dengan kawat atau tali agar menjadi horisontal. Antara kawat dan dahan atau cabang yang dirundukan diberi sabut kelapa agar kulit dahan tidak mengalami luka. Tunas-tunas akan tumbuh di percabangan yang dirundukkan untuk selanjutnya dipangkas. Setelah tumbuh bunga, perundukan dilepas kembali.
Seluruh pertanaman diperlakukan dan dirawat sesuai cara perawatan petani, terutama dalam hal pemberian pupuk kompos dan kimia diseragamkan. Pupuk dasar yang diberikan adalah SP-36 0,8 kg, KCl 0,55 kg, dan NPK 0,7 kg per pohon. Pupuk tersebut diberikan dengan cara dibenamkan dan ditutup tanah di dalam parit yang dibuat melingkar di bahwa tajuk tanaman. Ukuran parit sedalam 20 cm dan lebar 15 cm.
Dengan perlakuan perundukkan dahan, dihasilkan bunga-bunga yang tidak hanya tumbuh di ujung rantingnya saja, tetapi tumbuh pula bunga-bunga dan buah-buah pada dahan yang dirundukan. Dahan atau cabang yang dirundukan dalam posisi horisontal menjadi mudah berbunga dan berbuah. Bila cabang-cabang dibiarkan tumbuh ke atas, akan terjadi apikal dominan. Saat itu daun cenderung keluar terus menerus.
Pohon klengkeng (Dimocarpus longan (lour) Steud) mempunyai tiga kelompok bunga, yaitu, bunga berkelamin tunggal, berbunga jantan dan betina. Tanaman klengkeng yang berumah satu (bunga jantan dan bunga betina terjadi pada satu pohon) kadang kala berbunga hanya sedikit sehingga mengeluarkan buahnya juga sedikit. tak terkecuali di saat musimnya pada bulan September. Hal inilah menjadikan tingkat produktivitas klengkeng sangat rendah.
Dari beberapa perlakuan, cara perundukan dahan dinilai paling efektif untuk perangsangan pembungaan pada tanaman klengkeng yang berumur produktif (8-15 tahun). Perundukan dilakukan dengan cara menarik percabangan ke bawah dengan kawat atau tali agar menjadi horisontal. Antara kawat dan dahan atau cabang yang dirundukan diberi sabut kelapa agar kulit dahan tidak mengalami luka. Tunas-tunas akan tumbuh di percabangan yang dirundukkan untuk selanjutnya dipangkas. Setelah tumbuh bunga, perundukan dilepas kembali.
Seluruh pertanaman diperlakukan dan dirawat sesuai cara perawatan petani, terutama dalam hal pemberian pupuk kompos dan kimia diseragamkan. Pupuk dasar yang diberikan adalah SP-36 0,8 kg, KCl 0,55 kg, dan NPK 0,7 kg per pohon. Pupuk tersebut diberikan dengan cara dibenamkan dan ditutup tanah di dalam parit yang dibuat melingkar di bahwa tajuk tanaman. Ukuran parit sedalam 20 cm dan lebar 15 cm.
Dengan perlakuan perundukkan dahan, dihasilkan bunga-bunga yang tidak hanya tumbuh di ujung rantingnya saja, tetapi tumbuh pula bunga-bunga dan buah-buah pada dahan yang dirundukan. Dahan atau cabang yang dirundukan dalam posisi horisontal menjadi mudah berbunga dan berbuah. Bila cabang-cabang dibiarkan tumbuh ke atas, akan terjadi apikal dominan. Saat itu daun cenderung keluar terus menerus.
Subscribe to:
Posts (Atom)